Sunday, October 27, 2019

Ternyata bisa ya....

Ternyata Bisa ya……

Hari minggu tanggal 27 oktober 2019 yang lalu, saya berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh prodi gizi UBinawanTerlepas dari ruangan yang memang panasnamun suasana kehangatan dan kemeriahan dari acara tersebut terasa bagi siapapun yang hadir dalam acara tersebut. Hari minggu itu ada talk show dengan narsum Agus Sasirangan yang akan bercerita terkait dengan upayanya dalam membantu pemerintah mengatasi stunting. Talkshow yang digelar oleh prodi gizi UBinawan ini merupakan satu wahana promosi untuk pencegahan stunting, yang kalau sudah terjadi stunting maka efeknya akan kerasa sampai tiga turunan yang berarti bisa hampir 250th. Orang dengan stunting pastinya tidak akan bisa mengoptimalkan fungsi dirinya sehingga Performansinya dalam mencapai prestasi dalam hidupnya juga terkendala

Saya hendak mengupas sisi lain dari kegiatan initerutama ketika sudah mendapatkan beberapa informasi terkait dengan penyelenggaraan acara iniTidak ada yang tahu bahwa acara ini dirancang hanya dalam seminggu sebelum acara. Kaprodi Gizi sempat berpikir mana mungkin bisaharus mendatangkan peserta talkshow di hari minggu pula dengan sasaran spesifik pargenerasi mudaJawaban klise yang ada adalah apa yang nggak mungkin di dunia ini

Ada beberapa hal yang kita pikir kita tidak bisa melakukannya sampai kemudian kita mencoba melakukan dan ternyata bisa melakukan. Ada beberapa hal yang terkadang tidak kita sadariNamun secara psikologis terdapat beberapa hal yang patut kita renungkan mengapa yang kita sangka mustahil bisa kita lakukan.
1. Gain Pleasure, Avoid Pain
Terberinya manusia itu adalah mahluk yang akan mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari yang menyakitkan. Nah dalam situasi yang kita sangkakan nggak bisa kita lakukanmaka dorongan ini menguat dalam diri kitaSetiap manusia punya ketakutannya masing-masing, dan berupaya menghindari kemungkinan munculnya situasi iniDorongan untukmenghindari sakit ketika gagal melakukan sesuatu inilah, yang membuat kita memiliki dorongan untuk melakukan segala daya upaya. Nah dalam kasus prodi gizi UBinawan initantangan waktu persiapan acara yang pendek membuahkan suatu semangat yang luar biasa mulai dari melihat siapa saja yang dapat diajak bersinergimahasiswadosenstaf dari bagian lain bergerak Bersama mulai dari bersurat kepada 42 SMA/SMK (Alhamdulillah ada perwakilan 4 SMA/SMK), pasang informasi di social media yang tayang diulang-ulangBukan hanya akun socmed resmi institusi namun juga dari akun pribadi semua yang terlibat menampilkan informasi iniJadi lesson learned nya adalah dalam kondisi kepepet dorongan gain pleasure dan avoid pain ini mencambuk kita lebih kreatiftekun dan bersinergi.
2. Aktualisasi Diri
Poin aktualisasi diri ini merupakan aspek dasar darimanusia juga, bahwa pada dasarnya setiap manusia mau dirinya teraktualisasi atau berkeinginan dirinya mendapat pengakuan. Nah tidak jarang lingkungan sekitar kita (di luar dari internal diri kita) merupakan cambuk luar biasa untuk menunjukkan bahwa kita bisa. Nah keinginan untuk membuktikan diri bahwa kita bisa melakukan ini yang juga menggerakkan seseorang untuk bisa memaksimalkan usahanya sampai tujuan tercapai. Ketika ada orang yang mengatakan kita tidak bisa melakukannya, ada seamangat untuk menunjukkan pada yang mengatakan itu bahwa dia/mereka salah. Dan energi to prove something ini sangat luar biasa menggerakkannya.
3. Pengalaman adalah Suhu terbaik
Kesuksesan yang dilaksanakan oleh prodi Gizi dalam menjalankan acara inisaya meyakini akan membekas. Banyak yang belajar dari kegiatan iniMahasiswa belajar bagaimana menjalankan suatu kegiatanberstrategi dan juga bekerjasamaDosen juga belajar bahwa kalau dosennya yakin bisa dan bersemangat menjalankannya, maka untuk menggerakkan mahasiswa itu hal yang mudahBayangkan bila dosennya saja sudah nggak yakin,  nggak optimisterbayang apa yang akan dilakukan mahasiswa. Rekan kerja dari bidang lain yang membantu kelancaran acara ini pun juga belajar untuk kedepannya. Saya pribadi meyakini, bahwa sesuatu hal yang memberikan kesenangankebahagiaan, kepuasan dan hal-hal positif lainnys akan cenderung diulangApa yang dilakukan prodi gizi inisaya yakin akan diulang dan dengan menjawab tantangan yang lebih besar lagi. Karena pengalaman yang dimiliki membekas dan akan selalu ditengok dulu bisa  dilakukan karena apa ya…. Kita coba lagi melakukan hal yang sama dengan perbaikan dari evaluasi sebelumnya.

SEMANGAT. Jangan pernah bilang tidak bisa ketika belum mencoba.  (AND/October 2019)

Wednesday, August 3, 2016


waaa.... sudah setahun lebih tidak di update pojokannya....

better late than never lah....

jadi dirappel saja updatenya.


setelah riset terakhir seputar pembuatan alat ukur motivasi kerja berdasarkan teori motivasi dari Frederick Herzberg, saya dan kelompok riset payung (lagi) mengadakan riset yang berkenaan dengan determinasi komitmen organisasi dengan melihatnya dari variabel etika kerja, employee silence dan kolektivitas.


Perisetnya ada saya, pak Haris (kaprodi Psikologi Universitas Paramadina), Kenya, Dini dan Cahyo (ketiganya adalah mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Paramadina, saat ini sudah lulus).

Penelitian ini belum dipublikasi, baru tersimpan di perpustakaan Universitas. Sebentar lagi akan dibuatkan artikel dan diterbitkan di Jurnal Ilmiah.

Inti dari hasil penelitian ini :
  • Employee silence memberikan pengaruh yang signifikan terhadap komitmen organisasi afektif, normative dan kontinuans. Kediaman karyawan dalam melihat apa yang terjadi di lingkungan pekerjaannya ternyata bisa dijelaskan sebagai salah satu bukti dari komitmen mereka terhadap organisasi. Employee silence tidak selalu memberikan dampak yang negatif bagi keberlangsungan organisasi dimana karyawan itu bekerja.
  • Work ethic berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasi khususnya untuk kommitmen organisasi normative dan kontinuans, namun tidak berpengaruh terhadap komitmen organisasi afektif.
  • Collectivism berpengaruh yang signifikan terhadap komitmen organisasi afektif, namun tidak berpengaruh terhadap komitmen organisasi normative dan kontinuans.
Itu dah sekilas dari hasil penelitian yang dilakukan dari Agustus 2015 sampai dengan Mei 2016.... semoga akan dapat segera diterbitkan dalam jurnal ilmiah.





Saturday, June 20, 2015

Selesai..... Alhamdulillah

Satu hal yang layak untuk disyukuri adalah experiencing the synergi of my research team.... A DAFA .....

Kesan positif bersama kalian sangat membekas.... mulai dari merancang penelitian sampai menyelesaikan laporan penelitian kita di malam minggu ini tgl 20 juni 2015

Pembuatan alat ukur Motivasi Kerja berdasarkan Teori Dua Faktor dari Herzberg yang  kita lakukan memang masih memerlukan penyempurnaan, namun Alhamdulillah kita dapat menuntaskan sampai titik yang dapat dipertanggung jawabkan secara psikometrik.

Terimakasih dengan komitmen yang ditunjukkan.... malam minggu....hari minggu... bahkan sampai kalian sudah jadi alumni dan bekerja masih tetap berkomitmen untuk menyelesaikan apa yang kita mulai.

Semoga pengalaman yang di dapat ini dapat menjadi satu jejak komitmen kalian akan tugas-tugas lain yang nanti akan kalian emban.

Terimakasih semuanya....




Tinggal satu lagi.... Amiin.

Alhamdulillah satu progres lagi dari anggota tim penelitian payung melalui tahapan skripsi .... sidang skripsi dengan lancar dan telah mendapatkan hasil yang bagus. So far telah menjajarkan triple A-.... (pencapaian yang patut dibanggakan) dengan lulusnya Dilla Swaestya dalam sidang skripsinya yang berjudul pegaruh motivasi kerja (teori dua faktor dari Herzberg) terhadap work engagement. 


Riset yang dilakukan Dilla ini semaki menguatkan pemahaman dari teori Herzberg bahwa Hygiene factor tidak mampu membawa karyawan ke arah satisfied yang merupakan salah satu prediktor dari work engagement. Motivtor factor lah yang teruji secara signifikan mampu membentuk work engagement karyawan.

Insight dari penelitian Dilla ini adalah pemenuhan Hygiene diantaranya adalah gaji, kondisi kerja, supervisory, interpersonal relationship tidak teruji mampu menguatan work engagement karyawan bila tidak disertai dengan adanya pengakuan, pencapaian kinerja, tanggung jawab dan kecintaan akan pekerjaan itu sendiri.  Jadi bila perusahaan telah memberikan gaji yang oke, juga iklim kerja yang positif, menjadi kurang kuat impactnya bila tidak disertai dengan recognition, achievement, responsibility dan work itself.

Finally...... Tinggal satu lagi yang akan menjadi gong dari penelitian payung ini....semoga bisa haetrik empat A berjajar.... amiin.

Thank you Dilla..... Atha.... Fuad.... Atin..... A DAFA  team (Ayu  Dilla Atha Fuad Atin)




Friday, March 20, 2015

buahnya sudah dua

Update untuk  research kali ini lebih kepada aspek anggota peneliti yang telah berhasil lulus dalam ujian skripsinya yaitu At-Thariq yang telah lulus terlebih dahulu, sekarang disusul oleh Fuad.

Atha dengan penelitiannya yang menjelaskan deskripsi motivasi kerja dengan menggunakan teori dua faktor dari Herzberg, dapat menyampaikan hasil penelitiannya dengan apik, walaupun terkadang volumenya berkurang sendiri.... gak apa-apa ya Tha... namanya juga nervous.

Fuad Alpathana yang telah menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul pengaruh motivasin kerja berdasarkan teori dua faktor dari Herzberg terhadap OCB juga telah memaparkannya dengan apik... Penguasaanmu akan hasil penelitianmu yang bagus menunjukkan keseriusanmu dalam menyelesaikan penelitian itu. Meskipun terkadang berbelit menyampaikannya, ndak apa-apa, namanya juga sidang skripsi yang pertama.... (memang mau ada sidang skripsi yang kedua??)

Untuk teman-teman yang belum menuntaskan penelitiannya, tetap semangat ya... kita masih harus menuliskan laporan penelitiannya lho... Fuad dan Atha jangan pada pergi dulu....


Sunday, February 1, 2015

Hasil Pilot Study

Alhamdulillah....

Penelitian bersama dengan para partner research yang menyenangkan  ini sudah selesai pilot studynya dan hasil dari pilot study telah dipresentasikan pada konferensi Ikatan Psikologi Sosial di Denpasar 21-23 Januari 2015 yang baru lalu. Kami bertiga (saya, dilla dan fuad) berkesempatan untuk mempresentasikan hasil pilot study tersebut dengan harapan mendapatkan masukan dan feedback dari para pakar psikologi yang berkumpun pada acara Temu Ilmiah Nasional IPS tersebut.

Alhamdulillah lagi... apa yang kami lakukan telah on the track untuk pembuatan sebuah alat ukur. Sampai pada tahap pilot study ini kami masih mengikuti kaidah yang ada. Kami akan share tahapan yang kami gunakan untuk pembuatan skala motivasi ini.


Saat ini berarti kami sedang memasuki tahap ke V untuk uji Construct Validity. Sedangkan untuk tahap ke VI dan seterusnya diharapkan akan menjadi penelitian lanjutan dari penelitian ini di semester depan.

Berikut ini beberapa foto-foto kami saat di Temu Ilmiah Nasional IPS di Denpasar Bali.



Jadi tetap acara putu2annya ndak ketinggalan...

Mari temans...kita tuntaskan penelitian ini, ingat lho Mei adalah deadline untuk hasil penelitian kita, sampai pada construct validity analysis.

Semangaaattt....... tidak sabar memulai project yang baru..... employee silence

Tuesday, December 23, 2014

hore.... publikasi dari pre eliminasi research

menyenangkan bisa menorehkan prestasi dari awal taun hingga akhir tahun... alhamdulillah tahun 2014 ditutup dengan buah yang manis...

riset payung yang diawali dengan pre eliminary research berjalan sesuai dengan time line yang direncanakan

bulan desember ini berkesempatan untuk mempresentasikan hasil pre eliminary research yang berkaitan dengan mencari makna motivasi kerja kuat dan lemah pada kelompok dosen, manajer dan karyawan baik laki-laki maupun perempuan.

terimakasih pada anggot peneliti yang solid, yang telah mempresentasikan hasil penelitian ini dengan baik dan lancar. semoga pengalaman ini memberikan bekas yang bagus dalam ingatan atin dan atha.

balik lagi ke hasil penelitian awal ini.... dari hasil penelitian ini terlihat bahwa perilaku yang dimkanai sebagai motivasi kuat dan lemah adalah perilaku kerja yang berkaitan dengan ketepatan dalam menjalan prosedur kerja.  Baik pada laki-laki maupun perempua menyatakan bahwa motivasi kuat related dengan ketepatan waktu dalam meyelesaikan tugas, tidak terlambat untuk bekerja, tidak mengeluh dalam menunaikan tugas dan memiliki kemampuan yang bagus dalam mengelola tugas. Selain  itu juga dimaknai adanya kemauan mencapai hasil kerja yang bagus, mau mengembangkan diri dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugasnya. Dua kelompok ini terlihat nyata menjelaskan konsep motivasi kerja dari Herzberg yang dikenal dengan teori dua faktor.

Hasil penelitian ini mendasari kami untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan alat ukur motivasi kerja. dengan banyaknya indikator perilaku yang muncul yang mencerminkan dimensi hygiene dan motivator maka kami mengembangkan pengukuran ini based on two factor theory...

berikut ini adalah karyaw kami bertiga yang mendasari kami berempat untuk melakukan penellitian lanjutan....





sekarang kami sedang dalam proses uji coba terhadap alat ukur yang telah kami kembangkan.... semoga hasil uji coba ini dapat dipresentasikan oleh tim peneliti yang lainnya .... InsyaAllah konferensi ikatan psikologi sosial di Bali.... semoga... amiin.



Tuesday, November 25, 2014

Pelan Tapi Pasti.... Penelitian Berjalan Sesuai dengan Jadwal

Alhamdulillah....,

Saat ini penelitian tentang penyusunan alat ukurnya sudah selesai membenahi setelah dilakukan expert judgement.

Sekarang sedang dalam tahap uji coba alat ukur untuk mengetahui keterbacaan pernyataan maupun untuk mengetahui konsistensi internal setiap pernyataan dengan konstruk yang dijadikan landasan.

Tidak lupa tim penelitinya sempet narcis saat persiapan pilot study.... setelah  magang menjadi karyawan Gramedia dengan memasang label, dilanjutkan magang di snappy dengan menggandakan dan njepreti lembar-lembar kuesioner.... next magang untuk analis data.... Semangat My Team...walau yang dua orang sedang jalan-jalan... (gayanya aja menunaikan tugas negara)...

hehehhee....

inilah kita....yang lagi magang di snappy...




Wednesday, November 19, 2014

bacaan barunya sudah datang....walau buku lama...

Alhamdulillah...

Pagi ini masuk ruang kerja menjumpai paketan yang ditunggu dari salah satu jasa buku online... Salah satu referensi utama untuk penelitian yang sedang jalan saat ini akhirnya tiba...
Menjadi lebih yakin karena dapat merujuk dan mensinkronkan apa yang ditulis di artikel jurnal ilmiah lainnya dengan buku aslinya...

Bukunya berjudul Work and the Nature Man karangan Frederick Herzbeerg. Buku ini buku lama terbit tahun 1966, lebih lama dari bukunya Gilmore tentang Productive Personality tahun 1974 sebagai buku babon thesis S3.

Bukunya memang belum dibaca sih...tapi diagendakan akhir minggu ini atau minggu depan untuk dibaca...

ini sekilas penampakan bukunya.....




Semoga segera bisa melahapkan dan semakin memahami konsep pemikiran Herzberg ini dan bisa diadaptasi dengan budaya Indonesia.


Monday, November 3, 2014

Seklumit kisah tentang motivasi....

Motivasi.... siapa yang gak kenal dengannya...,
motivasi yang dikenal dari kata dasar movere menjelaskan adanya gerakan....adanya suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi. Memahami motivasi tidak cukup sebatas motivasi untuk mencari prestasi. Motivasi kerja yang dijelaskan oleh Herzberg berbeda dengan motivasi yang dijelaskan oleh McClelland, meskipun keduanya berasal dari kelompok content theory... tapi beda deh pemahamannya tentang motivasi. McClelland memahami motivasi dikaitkan dengan dorongan untuk menncapai prestasi. Sedangkan Herzberg mdnjelaskan motivasi dalam konteks motivasi kerja yang dipahami sebagai adanya dua faktor yang menggerakkan manusia untuk untuk berada dalam kondisi puas atau ketidak puasan. Faktor motivator merupakan penggerak untuk kepuasan dan hygiene merupakan faktor yang mencegah munculnya ketidakpuasan.

Ngintip dikit hasil riset kelompok kami... responden memahami motivasi pada umumnya dikaitkan dengan adanya usaha menuntaskan tugasnya dengan tepat waktu, tidak menunda pengerjaann tugasnya dan disiplin.... terus terang hal ini masih menjadi tanda tanya  besar... kok bisa ya...motivasi olehs responden penelitian kami yang maanajer dan supervisor itu memahami motivasi dikaitkan dengan dimensi waktu.... hhmmm .... mari kita cari jawabnya....

Yang punya gagasan....silakan jangan sungkan menyampaikannya kok bisa motivasi dipahami sebagai tindakan yang related to time dimension.....


Yuuuk diskusi di pojokan ini

Salam
Ayu

Saturday, November 1, 2014

Cerita riset baruku...

Salam.....

Dah lama saya tidak update blog ini... sempat kelupaan passwordnya sempet kelupaan nama blognya... sekarang ini diganti mejadi Pojokannya Ayu...dengan harapan dapat lebih mudah diingat dan diakses...

pengennya blog ini bisa dijadikan wadah untuk diskusi terkait dengan perkembangan psikologi industri dan organisasi serta psikometri di Indonesia....

langkah kecilnya dulu mencoba membagi apa yang telah saya lakukan dengan lingkungan kecil saya...mahasiswa dan alumni saya...

di penghujung tahun 2014 saya bersama empat mahasiswa saya fuad, dilla, atin dan atha melakukan penelitian payung tentang perumusan pengukkuran motivasi kerja dengan menggunakan teori dua faktor dari Herzberg... apa itu...nanti akan saya update infonya....demikian juga dengan hasil penelitiannya....

mau kenalan dulu dengan tim payung penelitian nya....ini dia...

GREEN BEHAVIOR (REUSE, REDUCE, RECYCLING - 3R) AT HOME AND AT WORKPLACE Ayu Dwi Nindyati ayu.nindyati@paramadina.ac.id


Abstract
Pro-environment behavior is not only the responsibility of environment field study itself, but also need involvement of other field study to keep the sustainability, especially if related to behavior so it will need psychology as behavior sciences. Pro-environment behavior usually known as green behavior could understand as three behavior such as reuse, reduce and recycling (3R). Sustainability of the 3R need support from surroundings include from home and workplace. The aim of this research is describing the 3R of employee behavior from some companies in Jakarta at home and work place. The home and the work place are places where respondents spent their time in their life. Research methods is using the quantitative-descriptive approach and also narrative-descriptive. Data was collected with open questioner and then analyze with statistic descriptive and narrative from 95 respondents. The research result showed that respondents said easier to conduct 3R behavior at home than at workplace. The reasons are first, the freedom and the simplicity to do it at home because they don’t have any rules like at the workplace. Second, when conduct 3R behavior at home, there were not many perceptions or views about the behavior itself and it was effect directly to family member.


Keywords: Green Behavior, Reduce, Reuse, Recycle



Presented at The 5th International Asian Association of Indigenous and Cultural Psychology (AAICP) Conference
January 10th – 11th, 2014
Psychology Department of Universitas Sebelas Maret Surakarta - Indonesia

Sunday, September 9, 2012

Proceeding Temu Ilmiah Nasional Psikologi Fak. Psikologi Unair, Nov. 2011


  Nilai-Nilai Enterpreneur Small Medium Entrepreneur
(Studi Komparatif Pada Warung Tegal Dan Warung Padang Dengan Telaah Nilai Berdasarkan Teori Schwartz)



ABSTRAK
Latar belakang penelitian ini adalah daya tahan yang kuat para entrepreneur menghadapi perubahan iklim perekonomian di Indonesia, dalam hal ini adalah para pemilik Warung Tegal dan Warung Padang. Harga yang terjangkau dibandingkan dengan rumah makan atau cafeteria menjadikan Warung Tegal dan Warung Padang sebagai pilihan konsumen. Penelitian berangkat dari asumsi tidak hanya aspek eksternal (harga yang bersaing) yang mengakibatkan Warung Tegal dan Warung Padang dapat bertahan dalam kondisi perekonomian yang mengalami krisis. Peneliti berasumsi bahwa aspek internal juga berperan, salah satunya adalah nilai-nilai yang dipegang kuat para pemiliki Warung Tegal dan Warung Padang dalam menjalankan bisnisnya. Penelitian ini menggunakan konsep nilai  yang dikemukakan Schwartz. Schwartz menjelaskan nilai dalam level individual sebagai tujuan individu dalam memahami lingkungannya yang mengarahkan individu memilih bagaimana berperilaku, mengevaluasi dan membenarkan perilaku dan hasil evaluasi individu. Terdapat 10 nilai yaitu self-direction, stimulation, hedonism, achievement, power, security, conformity, tradition, benevolence, dan universalism. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan nilai-nilai conformity, tradition, achievement, power dan universalism yang sangat signifikan pada pemilik Warung Tegal dan Warung Padang. Penelitian ini juga menjelaskan ada enam nilai yang tidak menunjukkan perbedaan nilai self-direction, stimulation, hedonism, security, dan benevolence pada pemilik Warung Tegal dan Warung Padang.

Kata Kunci: entrepreneur, nilai, Warung Tegal dan Warung Padang



ABSTRACT
The reason of this research was the struggle of entrepreneur to adjust economic climate change in Indonesia, especially for the warung Tegal and the warung Padang owner. The affordable price than cafeteria make the warung Tegal and the warung Padang are good choice for customer. This research come up with assumption that the affordable price as external factor makes the warung Tegal and The warung Padang could survive in economic crisis. But another aspect as good as the external factors were internal factors. In this research, the internal factors were personal values. Schwartz explain the personal values as personal goal that help them to understand the environment and to guidance person to choose how to behave, evaluate and judge their behavior based on the evaluation result. Schwartz said, there were 10 values such as self-direction, stimulation, hedonism, achievement, power, security, conformity, tradition, benevolence, and universalism. The research result showed that there were differentiate of six values for the warung Tegal and the warung Padang owner, such as self-direction, stimulation, hedonism, security, dan benevolence.
Key word: entrepreneur, values, the Warung Tegal dan the Warung Padang

Hasil Penelitian Terbaru, (Agustus, 2012)


 Pengaruh Resistance to Change terhadap Prestasi Belajar
 (Studi Empiris pada Mahasiswa Universitas Swasta di Jakarta)



ABSTRAK

Penelitian ini mencoba mengkaji pengaruh resistance to change (RTC) dalam seting akademik, pada umumnya  RTC merupakan fenomena yang muncul di seting industri dan organisasi. Seperti halnya dalam seting industry dan organisasi, RTC diduga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa sebagai perwujudan dari kinerja karyawan dalam industry dan organisasi. Pendekatan RTC digunakan pendekatan Oreg (2003) yang menjelaskan RTC melalui empat dimensi yaitu short term thinking, emotional reaction to imposed change, routine seeking dan cognitive rigidity. Sedangkan prestasi belajar dalam penelitian ini digunakan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) pada semester berrlangsungnya penelitian ini. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan. Dengan jumlah responden sebanyak 31 untuk pilot study dan 70 untuk field study, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi baik analisis regresi sederhana maupun analisis regresi berganda. Hasil analisis data menjelaskan bahwa RTC berpengaruh dengan sangat signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa. Semakin besar RTC mahasiswa semakin kecil prestasi belajar yang dicapai. Dengan analisis regresi berganda, diperoleh informasi bahwa dimensi short term thinking dan emotional reaction to imposed change merupakan dua dimensi yang dominan dalam membentuk RTC mahasiswa.

Kata kunci: resistance to change, prestasi belajar, mahasiswa, IPK

  
ABSTRACT

This research tried to access the effect of resistance to change (RTC) in an academic setting, in general, RTC was one of industrial and organizational phenomenon. As in industrial and organizational, RTC is expected to affect student’s academic performance, as employee performance in industrial and organizational setting. The approach of RTC in this research is RTC concept from Oreg (2003) that has four dimensions (short term thinking, emotional reaction to imposed change, routine seeking and cognitive rigidity). Student’s academic performance in this research is cumulative performance index (IPK). The research method approach in this research was Quantitative approach with 31 respondents for pilot study and 70 respondents for field study. The analysis data was regression analysis, both of simple and multiple regressions. The analysis result showed that the alternative hypotheses accepted, so there is effect of RTC to student’s performance academic. The multiple regressions showed that short term thinking and emotional reaction to imposed change was two dominant dimension of student’s RTC.

Key words: resistance to change, academic performance, students, IPK.

Tuesday, May 29, 2012

 Inquary vol 3 no 1 2010.pdf


Personal determinant of resistance to change di Perusahaan

Abstraksi
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui variabel dari aspek personal yang mampu mempengaruhi resistance to change. Aspek-aspek personal yang diukur dalam penelitian ini adalah kepribadian proaktif, kecerdasan emosi dan adversity. Penelitian dilakukan pada perusahaan yang memiliki tuntutan lingkungan tinggi, sehingga mengharuskan perusahaan untuk memiliki irama perubahan kerja yang tinggi. Setelah dianalisis, dari tiga aspek personal tersebut, variabel kepribadian proaktif tidak terbukti beperngaruh dengan signifikan pada resistance to change. Dua variabel lainnya yaitu kecerdasan emosi dan adversity, mempengaruhi resistance to change. Pengaruh yang diberikan dua aspek variabel tersebut adalah pengaruh negatif. Hal ini menjelaskan bahwa kecerdasan emosi dan adversity mampu mengurangi resistance to change yang dialami oleh karyawan.

Purpose of this research was to understanding effect of personal determinants to resistance to change. Personal determinants that involved in this research were proactive personality, emotional intelligence and adversity intelligence. This research was conduct at the corporate that had strong demanding to their employees. Based on the analysis, the result were proved that proactive personality did not have direct effect to resistance to change. But two others personal determinant (emotional and adversity intelligence) show the negative direct effect to resistance to change. It’s mean that employees who have emotional and adversity intelligence could handle the change without feel resisted.

Kata kunci: resistance to change, kepribadian proaktif, kecerdasan emosi, kecerdasan adversity.



https://www.sugarsync.com/pf/D7250707_66582551_68768